penyerapan protein dalam tubuh

Standard

proteinn

Protein merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien. Tidak seperti bahan makronutrien lain (lemak dan karbohidrat), protein ini mempunyai peranan lebih penting dalam pembentukan biomolekul daripada sumber energi. Namun demikian apabila organisme sedang kekurangan energi, maka protein ini dapat juga dipakai sebagai sumber energi. Kandungan energi protein rata-rata 4 kilokalori/gram atau setara dengan kandungan energi karbohidrat. Strukturnya mengandung N, disamping C, H, O (seperti juga karbohidrat dan lemak), S dan kadang-kadang P, Fe, dan Cu (sebagai senyawa kompleks dengan protein).

Protein dalam bahan makanan sangat penting dalam proses kehidupan organisme yang heterotroph seperti hewan dan manusia. Protein alamiah mula-mula dibentuk dari unit asam-asam amino yang dirakit sama sekali baru (de novo) oleh organisme autotroph (tumbuhan dan mikroorganisme tertentu) dari unsur-unsur anorganik C, H, O, N dan S yang ada dalam tanah atau udara. Senyawa protein yang ada dalam eritrosit (sel darah merah) misalnya, secara alamiah berganti tiap 3 bulan, sedangkan protein yang ada dalam jonjot usus penyerapan makanan (villi) berganti tiap 43 jam.

Makanan misalnya daging dimana mengandung protein di dalamnya akan dicerna oleh tubuh dengan mekanisme tertentu. Pencernaan protein dimulai dari lambung dan juga pada usus halus dengan kegiatan sebagai berikut: pencernaan protein di lambung, oleh enzim: pepsin, dan gastrik protease (dari lambung) protein dicerna sampai berbentuk sederhana seperti polipeptida. Bagian ini kemudian masuk ke usus halus. Selanjutnya, di usus halus protein dicerna oleh khimotripsin dan tripsin yang berasal dari pankreas. Enzim ini memotong polipeptida menjadi bentuk peptida yang lebih sederhana. Karboksipeptidase, aminopeptidase, dipeptidase menyerang asam, dan bagian akhir dari peptida kemudian menjadikan asam amino bebas yang selanjutnya diserap oleh dinding usus halus.

Dalam bentuk aslinya, sebagian besar protein sangat resisten terhadap pencernaan. Akan tetapi, setelah protein mengalami denaturasi oleh pejanan panas atau asam, kekuatan yang mempertahankan struktur protein menjadi lemah, sehingga protein dapat dicerna. Enzim disekresi sebagai proenzim (zimogen non aktif), dan diaktifkan hanya setelah disekresi ke dalam lambung atau duodenum. Hal ini melindungi organ tubuh dari pencernaan sendiri (autodigesti) oleh enzim proteolitik. Pada prosesnya rantai polipeptida dipecah pada lokasi spesifik, sehingga membuka lebih banyak lokasi terminal untuk pemutusan lebih lanjut. Dengan demikian dihasilkan rantai peptida yang lebih pendek secara progresif. Jadi secara keseluruhan proses ini menghasilkan asam amino bebas serta peptida kecil lain, yang kemudian dipecah lagi oleh aminopeptidase yang terdapat dalam mukosa usus (intestin) selama proses absorpsi. Dalam kondisi normal protein dari makanan yang kita konsumsi hampir seluruhnya tercerna. Akan tetapi, adanya dinding sel yang tidak tercerna dan inhibitor tripsin misalnya dalam jenis kacang polong yang masih mentah dapat menghambat proses ini.

Selanjutnya penyerapan atau absorpsi dari protein berlangsung melalui difusi pasif maupun mekanisme transpor aktif yang tergantung natrium. Asam amino yang diabsorpsi kemudian masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Selain mengabsorpsi asam amino dari makanan, mukosa usus juga mengabsorpsi cukup banyak asam amino endogen (kurang lebih 80 g/hari), yang berasal dari sekresi ke dalam usus halus, dan sel yang terkelupas dari permukaan mukosa.

Ketersediaan protein nabati di seluruh dunia relatif konsisten, sekitar 50 g/orang/hari. Akan tetapi ketersediaa sumber protein hewani sangat berbeda-beda, dari <5 sampai 50 g/orang/hari, yang paling tinggi terdapat disebagian besar negara barat. Pada umumnya protein menyumbang 10 – 12 % dari energi. Sumber protein dapat berasal dari berbagai bahan makanan, baik yang berasal dari bahan hewani atauppun bahan nabati, seperti:

  1. Daging berwarna merah, termasuk daging sapi, dan daging kambing
  2. Daging ayam, telur ikan, susu, keju, dianggap mengandung protein komplet yang efisien untuk tubuh
  3. Golongan kacang-kacangan: legume, kacang kedelai, kacang hijau
  4. Legume mengandung 20% protein, tetapi sereal kurang kandungan proteinnya bila dibandingkan dengan legume. Walaupun demikian masih dapat dipakai sebagai sumber protein (sereal seperti beras mengandung 7% protein, sedangakan gandum mengandung 12%).

untuk info lebih lanjut, silahkan kunjungi halaman berikut :klik disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s