Nyeri, Apakah itu?

Standard

Sakit-kepala-bagian-belakang

Setiap orang pasti pernah merasakan yang namanya nyeri. Nyeri bisa berupa rasa terbakar, atau nyeri tumpul seperti terkena tekanan, atau mungkin nyeri tajam seperti teriris pisau. Nyeri dapat menjadi suatu penanda bahwa di dalam tubuh kita ada yang tidak beres atau  tidak normal yang membuat seseorang memerlukan pengatasan dengan obat dan harus berkonsultasi ke dokter. Nyeri merupakan persepsi yang kompleks, yang rasanya dapat bervariasi antara orang yang satu dengan orang yang lain, meskipun mereka mendapatkan cedera atau penyakit yang relatif sama.

Pada jaman dulu, manusia sering mengkaitkan nyeri dengan hukuman, setan, atau magic, sehingga penghilangan rasa nyeri merupakan tanggung jawab pendeta, dukun, atau pengusir setan, dengan menggunakan tanaman, atau ritual dan upacara tertentu. Teori pertama tentang nyeri datang dari Yunani dan Romawi yang menyatakan bahwa otak dan sistem syaraf berperan dalam menghasilkan persepsi nyeri. Baru pada abad pertengahan dan di jaman Renaissence pada tahun 1400 – 1500 an, mulai terkumpul fakta-fakta yang mendukung teori tersebut. Pada tahun 1664, seorang filsuf Perancis Rene Descartes menggambarkan apa yang sekarang disebut sebagai jalur nyeri (pain pathway). Kemudian pada abad ke 19, nyeri menjadi ilmu tersendiri yang menjadi jalan bagi berkembangnya ilmu penatalaksanaan nyeri. Saat itu mulai ditemukan senyawa opium: morfin, kodein, kokain, yang dapat digunakan untuk mnegobati nyeri. Penemuan ini kemudian mengarahkan pada penemuan aspirin, sebagai obat analgesik yang banyak dipakai sekarang.

Nyeri (pain) berasal dari kata peone (bahasa Latin) dan poine (bahasa Yunani) yang berarti pinalti atau hukuman. Menurut Aristoteles nyeri adalah suatu perasaan, nafsu jiwa dimana jantung merupakan sumber nyeri tersebut. Menurut Descartes, Galen, dan Vesalius, nyeri mengkaitkan nyeri dengan neuroreseptor, nociseptor, dan input sensori. Teori-teori tersebut akhirnya berkembang kedalam definisi nyeri, yaitu: “pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan adanya kerusakan jaringan baik aktual maupun potensial atau keadaan yang menggambarkan kerusakan tersebut”.

Berdasarkan lamanya nyeri, nyeri dibedakan menjadi nyeri akut dan kronis yang berbeda cukup signifikan.

  1. Nyeri akut

Nyeri akut adalah nyeri dengan durasi sampai 7 hari yang biasanya terjadi secara tiba-tiba. Penyebabnya mungkin diketahui atau tidak. Gejala-gejalanya dapat berlangsung selama berjam-jam, berhari-hari, sampai satu minggu dan biasanya dihubungkan dengan luka jaringan, inflamasi, suatu prosedur yang berhubungan dengan pembedahan, proses kelahiran bayi, atau suatu gangguan penyakit yang singkat, dan bisa juga diikuti dengan kecemasan atau tekanan emosional.

  1. Nyeri kronis

Nyeri kronis adalah nyeri dengan durasi lebih lama, bahkan bisa berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dan sering dianggap sebagai penyakit itu sendiri. Nyeri ini bisa memburuk jika ada faktor lingkungan dan psikologis yang mempengaruhi. Nyeri kronis umumnya tidak mempanterhadap pengobatan, dan hal ini bisa menyebabkan gangguan yang berat bagi pasien. Pada beberapa kasus, dapat terjadi serangan nyeri akut pada problem nyeri kronis. Contoh hyeri kronis antara lain: nyeri rematik, nyeri tulang belakang, nyeri diabetes neuropati, neuralgia post herpes, multipel sklerosis, dll.

Berikut tabel perbedaan karakteristik antara nyeri akut dan nyeri kronis:

Karakteristik Nyeri akut Nyeri kronis
Peredaan nyeri Sangat diinginkan Sangat diinginkan
Ketergantungan trh obat Tidak biasa Sering
Komponen psikologis Umumnya tidak ada Sering merupakan masalah utama
Penyebab organik Sering Seringkali tidak ada
Kontribusi lingkungan dan keluarga Kecil Signifikan
Insomnia Jarang Sering
Tujuan pengobatan Kesembuhan Fungsionalisasi
Depresi Jarang sering

 

Sedangkan berdasarkan asalnya, nyeri terbagi menjadi menjadi nyeri nosiseptif  (nociceptive pain) dan nyeri neuropati (neuropathic pain):

  1. Nyeri nosiseptif  (nociceptive pain)

Adalah nyeri yang disebabkan oleh stimulasi langsung pada reseptor nyeri (nosiseptor), baik secara mekanis, atau melalui rangsang kimia atau panas. Nyeri ini dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan lokasinya, yaitu nyeri somatik dan visceral. Nyeri somatik adalah nyeri yang disebabkan karena adanya kerusakan jaringan yang menyebabkan pelepasan berbagai mediator nyeri dan inflamasi yang kemudian memicu nyeri melalui aktivasi nosiseptor yang banyak dijumpai pada kulit, otot, atau jaringan lunak. Umumnya nyri ini digambarkan sebagai nyeri tajam, menusuk, atau berdenyut-denyut yang relatif mudah diketahui lokasinya. Nyeri visceral adalah nyeri yang disebabkan oleh stimulasi pada sistem syaraf otonom, dan biasanya terjadi pada rongga dalam tubuh (visceral) seperti pada jantung, paru-paru, saluran cerna, atau saluran urogenital. Seringkali nyerinya samar-samar, menyebar, dan sulit dipastikan lokasinya. Penyebabnya antara lain: nekrosis / iskemia, inflamasi, peregangan ligamen, kontraksi otot polos, peregangan kapsula organ, dll.

  1. Nyeri neuropati (neuropathic pain)

Nyeri neuropatik mengimplikasi adanya cedera pada struktur syaraf, yang menyebabkan fungsi yang menyimpang pada sistem syaraf, baik pusat maupun perifer. Nyerinya digambarkan sebagai nyeri seperti rasa terbakar / panas, geli, mati rasa, menusuk, atau pedih seperti tersengat listrik.

 

Sumber:

Ikawati Zullies. 2011. Farmakoterapi Penyakit Sistem Syaraf Pusat. Yogyakarta: Bursa Ilmu

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s